Pecaturjogja’s Blog

Just another WordPress.com weblog

Archive for the ‘strategi catur’ Category

Mainkan Papannya, Bukan Pemainnya

Posted by pecaturjogja pada Maret 28, 2009

Kiat catur : segala sesuatu yang berhubungan dngan permainan itu dapat dipelajari dari posisi perangkat yang ada di atas papan catur.

Beberapa tahun yang lalu saya diundang untuk menyuguhkan pertunjukan pada suatu yayasan di Kota New York untuk para remaja bermasalah.Para pecatur menyebut pertunjukan semacam ini “simul”, bermain melawan sejumlah lawan dalam waktu serentak. Dalam kesempatan ini, saya menghadapi dua puluh remaja yang sedang duduk berjejer, mereka kebanyakan mempunyai masalah yang serius dengan hukum. Dengan sinis dan percaya diri, mereka dapat mempertahankan diri dalam setiap jenis pertarungan jalanan. Jelaslah, permainan catur tidak menimbulkan kengerian.

Saya memandang sekilas ke papan catur. Di ujung yang jauh dari ruangan itu ada orang yang terlihat sangat miring. Si pemain sedang duduk di sana, di belakang perangkat Putih, tegap menatap tajam kepada saya seakan-akan kami saling beradu muka sebelum memulai pertarungan tinju. Saya melihat-lihat dan mendekat ke papan catur. Kedua sisi disusun secara benar. Tiap pasukan menempati pada barisannya masing-masing yaitu, pertama dan kedua. Tetapi lawan saya yang cerdik ini telah berhasil menempatkan satu benteng tambahan di barisan ketiganya. “Anda mempunyai tiga benteng,” kata saya. Anak muda itu melotot pada saya.”Apakah anda menuduh saya curang?”, ia bertanya, suaranya meninggi dengan mengisyaratkan ancaman.

“Hormati lawan anda”, kata saya di dalam hati, ” jangan takut padanya”. Namun saya merasakan diri saya mengenang suatu peristiwa masa silam saat menghadapi papan catur dengan pria-pria kasar lain. Saya mengajar permainan catur sekali seminggu secara sukarela di dekat penjara di Negara Bagian New York.

Banyak keributan terjadi dan berlalu begitu saja tanpa pernah diberitakan, dan saya pernah mengalami salah satunya, ketika saya sedang mengajar kelas saya. Satpam dengan cermat memalang suatu bagian rapi dari gedung itu untuk mengamankan para napi. Saya terperangkap di dalam perpustakaan dengan dua belas bajingan, diantaranya ada satu atau dua orang pembunuh. Tak henti-hentinya, saya memeras otak untuk menemukan komentar-komentar yang cerdik mengenai sang raja dan pentingnya jumlah dalam menyerang. Akan tetapi mengharapkan ide yang cemerlang terbukti tidak berguna. Tak seorangpun dari mereka yang bertengkar dekat kami mengganggu murid-murid saya. Kelompok itu terus bermain catur seolah-olah tak ada masalah.

Kenangan itu masih memenuhi benak saya, saya berbalik ke susunan yang bijaksana tiga benteng Putih. Saya pandang sekilas anak muda yang marah itu, ia mengira dapat menang hanya dengan langkah awal yang memimpin. Jiwa pendidik yang ada pada saya memutuskan untuk membiarkannya menjaga perangkat tambahannya.Mungkin ada pelajaran dari situ. Tetapi yang terjadi tidak demikian, karena penantang saya tiba-tiba memindahkan benteng ketiganya dan berkata, “Mari kita bermain.”

Saya tahu lawan saya merasa gelisah dengan kemampuannya, jadi saya tidak banyak berharap. Selama putaran-putaran pertama di sekitar ruangan itu, sekilas saya melempar pandangan ke papan caturnya, membuat suatu langkah, dan berhadap-hadapan. Meskipun telah bergerak kira-kira dua belas langkah, saya berhenti sebentar. Dari tempat saya berdiri, hal itu kelihatan tidak bagus. 

Anak muda itu benar-benar sangata mahir, dan pertarungan kami ternyata merupakan permainan yang paling berat di hari itu. Saya harus bekerja keras sebelum akhirnya menemukan ide yang memenangkan. Setelah melewati perjuangan yang melelahkan, lawan saya hanya mempunyai seorang raja dan bidak saya. Saya berhasil memajukan bidak saya ke baris kedelapan.

Lawan muda itu memandang saya. Kita sama-sama tahu bahwa saya dapat menukar bidak itu dengan menteri yang baru. Saya berhenti sebentar. Kemudian saya meminta sebuah benteng ekstra milik saya, dan ini tidak bisa dibantah, karena diperoleh menurut aturan permainan. Dengan senyum pengakuan, lawan saya merentangkan tangannya sebagai tanda kekalahan yang sangat ramah.

Betapa kuatnya anak muda itu. Sebelum kami mulai, ia memusatkan perhatian kepada lawan yang harus ia hadapi. Tetapi seiring dengan langkah pertamanya, ia memusatkan energinya kepada permainan. Bukan kepada lawannya. Bukan kepada luar-jiwa. Bukan kepada latarnya. Hanya kepada permainan itu.

Sebaliknya, saya mulai  dengan melihat lawan saya sebagai pemula. Pada akhirnya, permainannya yang kuat, memaksa saya melakukan apa yang harus dilakukan oleh semua pecatur: berkonsentrasi pada permainan, bukan pada pemainnya. Kami sama-sama kembali ke pencarian kebenaran, dan di dalam permainan catur, hal itu selalu ditemukan di atas papannya.

Permainan catur adalah totalitas yang memuat informasi yang sempurna. Tidak ada yang disembunyikan dari kami. Kami dapat menghitung perangkat dan melihat keuntungan pada ruangnya. Petak-petak yang lemah dapat kita jadikan sasaran dan memusatkan perhatian pada raja lawan. Kita dapat memecah-mecah pikiran kita kepada langkah-langkah yang tepat dan menaksir tiap-tiap langkah. Dan ketika tiba saatnya untuk menyusun rencana dan membuat keputusan, kita belajar mematuhi apa yang didiktekan logika,dan didukung oleh analisis kita, di dalam posisi-posisi perangkat, di dalam aturan permainan, dan di dalam langkah-langkahyang kita buat.

Jelaslah para pemain bebas menggunakan apa pun yang dapat memberi mereka informasi yang konstuktif. Mengapa tidak? Di dalam suatu kompetisi internasional, Bobby Fischer, hampir melancarkan apa yang ia kira merupakan serangan yang cerdik ketika ia mempehatikan bahwa lawantelah mengambil postur Sang Pemikir-nya Robin. Fischer cepat tanggap bahwa dia sedang berjalan memasuki sergapan mendadak. Ia diperingatkan oleh bahasa tubuh lawannya.   

Pemain lain itu memang telah menyusun perangkap.Kemudian ia membeku, dan menyingkapkan tipuannya. Tetapi Fischer masih harus menemukan langkah yang baik untuk menang. Pada akhirnya, penempatan perangkatlah-bukan postur yang membantu-yang memberinya solusi yang ia cari.

Banyak buku telah ditulis untuk menasihati bagaimana menafsirkan tingkah laku yang tak kentara dari mitra, bos, dan karyawan kita. Memahami tanda-tanda fisik yang mungkin berhubungan dengan lingkungan apa pun; dan segala macam faktor yang sukar dimengerti dapat membantu kita dalam membuat keputusan. 

Dapatkah sinyal-sinyal itu benar-benar menggantikan langkah-langkah yang benar? Tidak mungkin. Dan bagaimana, jika Anda salah menafsirkan sebuah tanda? Bagaimana jika seorang pemain menyembunyikan atau memperdaya Anda dengan tingkah lakunya yang menyesatkan? Apa yang tampaknya seperti bukti bisa jadi adalah informasi yang keliru. singkatnya, lawan Anda mungkin mengelabui Anda dengan banyak cara. Papan catur tidak bisa melakukannya. Kenyataan permainan catur ditemukan di posisi-posisi perangkat pada enam puluh empat petak, jelas, dan sederhana. 

Tentu kita dapat mengatakan hal yang sama tentang dunia bisnis. Apa pun mulai dari kedipan mata, hingga kesalahan kecil, Freudian, mungkin memberi berbagai petunjuk untuk dimanfaatkan sebelim mengambil tindakan. Tetapi tergantung kepada perkiraan-perkiraan kita, mungkin bisa berbahaya. Kita mungkin salah menafsirkan apa yang kita lihat. Apa yang kita kira sebagai petunjuk ternyata adalah tipuan. 

Informasi yang akurat dibutuhkan untuk membuat keputusan yang baik. Putusan yang logis memerlukan bukti yang dapat kita perhitungkan. Pertimbangkanlah apa pun, tetapi untuk sukses di dalam permainan yang besar bersandarlah pada fakta-fakta yang nyata.

Papan catur tidak bisa berbohong.

Posted in strategi catur | Dengan kaitkata: , , , , | 1 Comment »

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.