Pecaturjogja’s Blog

Just another WordPress.com weblog

Tirta Chandra Kenal Catur Dari Pamannya

Posted by pecaturjogja pada November 5, 2009

Oleh Adha Nadjemuddin

Pria itu buru-buru turun ke lantai dasar gedung D Ditjen Dikti, Glora Bung Karno Jakarta, tempat Kejurnas Catur Mahasiswa 2009, setelah ia mengalahkan Bambang Christiansen, dari Universitas Kristen Indonesia (UKI). Bambang dilumpuhkannya pada langkah ke 67. Raja lawan tidak bisa bergerak setelah skak-mat. Penonton pun kemudian bersorak atas kemenangannya.

Dialah Tirta Chandra Purnama, pecatur Indonesia. Namanya sudah menasional, terutama di kalangan pecatur, sejak mahasiswa STIE Indonesia, Rawamangun itu mengikuti beberapa pertandingan dalam dan luar negeri. Sebelum olahraga adu otak itu membawanya ke sejumlah negara, Tirta sudah mengenal catur sejak kelas lima sekolah dasar. Pria kelahiran Jakarta 30 Mei 1986 ini mengenal catur dari pamannya. Waktu itu bersamaan Hari Raya Idul Fitri. Keluarga Tirta mengunjungi pamannya di sebuah daerah Kerta Lama, Banten.

“Waktu itu saya baru mau naik kelas enam. Kebetulan hari raya kami ke kampung. Di sana saya diajari sama paman bagaimana main catur. Saat itulah pertama kali saya kenal catur,” kata Tirta, sembari mengingat-ingat nama pamannya yang mengajarinya bermain catur. Setelah pulang ke Jakarta, Tirta kemudian membeli papan catur. Lama kelamaan, ia akhirnya kepincut dengan olahraga otak itu. “Catur akhirnya tidak saja sekadar hobi tetapi sudah menjadi bakat yang terus saya kembangkan,” ujarnya. Agar olahraga ini terus berkembang, peraih gelar Gelar Master International di 1st ASEAN Masters Chess Circuit, Kalimantan Timur tersebut akhirnya menjadi sebuah obsesi. Tahun 1997 ia akhirnya masuk sekolah catur Enerpec Jakarta. “Tahun 2002 saya sudah tidak aktif lagi di sekolah catur, dan saya gabung di JAPFA Chess Club (JCC),” kata Tirta menceritakan kisahnya.

Sejak ia masuk di sekolah catur, beberapa prestasi pun satu persatu ia mulai rebut. Tahun 1998, Juara I Kejurda DKI Kelompok U-12. Tahun yang sama ia juga meraih Juara I KU-16, Kejurnas Catur Bekasi, Jabar dan Juara I Kejuaraan Catur Perorangan terbuka dan pelajar PERCAJA Cup.

Di tingkat internasional, prestasi yang diraihnya pun membanggakan. Tahun 1998, ia menjadi salah satu pemain terbaik papan IV perorangan, Piala Merdeka, Kuala Lumpur, Malaysia. Tahun 1999, Juara I Kejuaraan Catur Beregu Piala Merdeka KU-18, Kuala Lumpur, Malaysia. Pada tahun yang sama, Tirta juga mengikuti Kejuaaraan Dunia Catur Junior KU-14, Oropesa Del Mar, Spanyol. Prestasi gemilang anak pertama dari pasangan Ahmad Suardi dan Yayah ini terus menanjak naik hingga akhirnya tahun 2008 meraih gelar Master International di 1st ASEAN Masters Chess Circuit, Tarakan, Kalimantan Timur. Pada tahun yang sama ia juga menjadi anggota tim Indonesia untuk Olimpiade di Dresden, Jerman. Prestasi yang ia raih tersebut bukanlah titisan bakat dari sang ayah, namun berkat kerja keras dan belajar yang sungguh-sungguh. Secara teknis, catur ia pelajari mulai dari sekolah catur, buku, hingga komputer. “Kalau nonteknis lebih pada mental, tekun, sabar, dan pengendalian diri,” katanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: